Kamis, 22 Januari 2009

Congratulation... 4 70

Assalamualaikum wr wb
Selamat buat ajo, yang tadi malam udah tunangan ama Uci, Insya Allah married tanggal 7 Maret taun ini, semoga bisa merangkai keluarga sakinah mawaddah wa rahmah, dan bisa menularkan hal ini pada teman-2 yang lain (specially 4 me!!)
wassalam..

[+/-] Selengkapnya...

Rabu, 21 Januari 2009

Obama....


Assalamualaikum wr wb
Kemaren, 20 Januari 2009, Barack Hussein Obama (pronounced /bəˈrɑːk hʊˈseɪn oʊˈbɑːmə) resmi diangkat menjadi Presiden USA yang ke-44. Kemeriahan pelantikan Presiden negara adidaya ini begitu terasa. Lebih dari 2 juta rakayat Amerika menghadiri langsung acara ini. Belum lagi yang mengikuti dari Media Televisi. Obama, demikian nama kerennya memang menjadi sebuah fenomena tersendiri, sejarah yang dicatatnya sebagai Presiden kulit hitam pertama yang dipilih oleh rakyat Amerika menjanjikan untuk mampu mencatat sejarah-2 lainnya dalam perjalanan kepresidenan beliau.
Memang, di tengah situasi krisis ekonomi yang melanda dunia, Obama menjadi sebuah 'harapan'. Seperti icon dari kampanye nya. Obama yang pernah jadi anak Menteng ditenggarai mampu membawa USA keluar dari krisis ini.
Indonesia, sebagai negara yang pernah membesarkannya, sebenarnya tidak bisa berharap banyak apalagi mengharapkan perhatian maupun bantuan dari USA. Karena diyakini, Obama akan disibukkan dengan perbaikan di Dalam Negerinya.


[+/-] Selengkapnya...

Kamis, 01 Januari 2009

1-st Day in 2009

Assalamualaikum..
Ini hari pertama di taun 2009, rada gerimis sih, semoga ujan nggak turun, pasti masih banyak orang yang masih molor, karena kecapekan, atau emang karena malas, kan tanggal merah (ari libur)
Tapi gw ngarap, semoga awal taun ini jadi new starting point yang bagus buat gw, karena banyak hal yang mesti digapai di taun ini.
Busyet, gw belom mandi, jadi mo mandi dulu, segitu aja dulu ntar-2 disambung lagi.
Wassalam

[+/-] Selengkapnya...

Rabu, 31 Desember 2008

This Year End........

Assalamualaikum Wr Wb.......
Malam ini, malam tahun baru, orang-orang pada pergi tuk sekedar ngabisin waktu di hari terakhir di tahun 2008. Ada yang jalan-jalan ma motor, ada yang pergi mendaki (jadi kangen nih...) dan banyak lainnya. Gw sih di Iqra' aja, Metek dan Awal lagi ke tempat Pak Win, emang ada rencana mo ngadain Bakar Ikan di Iqra' nanti.
Tahun baru seyogyanya bisa memberikan semangat baru buat kita semua, just to make wishes, gw ngarap brapa hal di tahun 2009, 1-st, semoga di tahun 2009 gw bisa married (hehehe....) teman-2 gw udah pada married semua, nggak lucu lagi kalau lagi kumpul-2 tinggal gw sendiri yang ngejomblo. 2-nd, Gw bebas dari hutang! Maksudnya hutang uang, sekarang gw lagi ada ngutang sama Bank, sama orang, minimal menjelang married hutang-hutang tersebut bisa lunas, jadi Iqra' bisa gw nyebut punya gw,. 3-rd, Mesti ngafal Juz Amma, Niat ini sih udah lama banget, dan gw juga udah janji ma Lidia, gw kan jadi Imamnya kalau udah hafal Juz terakhir ni, Lagian target pribadi gw minimal hafal 10 Juz lah. Masak sih ketua Remesla Juz 30 aja nggak hafal.
Pa lagi ya.... Pokoke yang baik-2 aja, mesti nya tahun 2009 lebih baik dari tahun 2008, doain aja ya!
Di luar bunyi terompet yang ditiup udah semarak, jalan raya rame dengan kendaraan, kayaknya keramaian ini sampai jam 12-an lah. Semoga tahun 2009 membawa keberuntungan bagi semua.
HAPPY NEW YEAR!!!!
Wassalam

[+/-] Selengkapnya...

Minggu, 07 Desember 2008

Gabung Yuk..

Oh ya, banyak yang nawarin bisnis di internet, kalo ada yang mo minta coba klik link ini http://Kumpulblogger.com/signup.php?refid=27823

[+/-] Selengkapnya...

Jumat, 21 November 2008

Rakus

Tiap kali ”kapitalisme” tampak guncang dan buruk, tiap kali Wall Street terbentur, orang jadi Oliver Stone. Dalam Wall Street, sutradara yang bakat utamanya membuat protes sosial dengan cara menyederhanakan soal, menampilkan dahsyatnya keserakahan manusia. Di sana Gekko, diperankan Michael Douglas, menegaskan dalilnya: rakus itu bagus. ”Rakus itu benar. Rakus itu membawa hasil. Rakus itu… menandai gerak maju manusia.”

Tapi rakus adalah fiil pribadi-pribadi, sementara ”kapitalisme” tak cukup bisa dikoreksi dengan membuat orang insaf. Rakus juga bisa lahir di luar Wall Street. Ia tak hanya melahirkan ”kapitalisme”.

Memang ada sesuatu yang amat rumit hari-hari ini.

Seperti mantra, seperti makian, kata ”kapitalisme” kini meyakinkan hanya karena dampaknya bagi pendengar, bukan karena definisinya yang persis. Juga kata ”sosialisme”. Juga kata ”pasar”, ”Negara”, dan lain-lain yang tak berseliweran di antara kita.

Kita sering tak menyimak, pengertian itu sekarang pada retak, nyaris rontok. Setidaknya sejak Juli yang lalu. Majalah The Economist melukiskan adegan dramatik yang terjadi di pusat kekuasaan Amerika Serikat, negara kapitalis papan atas itu: ”Pada 13 Juli, Hank Paulson, Menteri Keuangan Amerika, berdiri di tangga departemennya seakan-akan ia menteri sebuah negara dengan ekonomi pasar yang baru timbul….”

Hari itu Paulson, pembantu Presiden Bush, mengungkapkan rencana daruratnya buat menyelamatkan Fannie Mae dan Freddie Mac, dua bisnis raksasa dalam bidang pendanaan hipotek yang tak mampu lagi membayar kewajibannya US$ 5,2 triliun. Pemerintah memakai kata ”conservatorship”. Artinya, dewan direksi dicopot, pemegang saham praktis disingkirkan, tapi perusahaan itu akan terus bekerja dengan Pemerintah jadi penyangga utangnya. Pendek kata: Pemerintah AS mengambil alih perusahaan itu—kata lain dari ”nasionalisasi”, sebuah langkah yang mirip apa yang pernah dilakukan di Indonesia dan akhir-akhir ini di Venezuela.

Tapi ini terjadi di suatu masa, di suatu tempat, di mana ”pasar” dianggap punya daya memecahkan persoalannya sendiri. Ini terjadi di sebuah era yang masih meneruskan fatwa Milton Friedman bahwa ”penyelesaian oleh Pemerintah terhadap satu soal biasanya sama buruk dengan soal itu sendiri”. Ini terjadi di sebuah perekonomian—disebut ”kapitalisme”—yang prinsipnya adalah siapa yang mau ambil untung harus berani menerima kemungkinan jatuh. Jika para direksi dan pemegang saham siap menyepak ke sana-kemari meraih laba di pasar, kenapa kini mereka harus dilindungi ketika tangan itu patah?

Di situlah ”kapitalisme” meninggalkan prinsipnya sendiri. Tapi tak berarti ”kapitalisme” di Amerika berhenti sejenak. Memang tindakan nasionalisasi di sana—terakhir dilakukan terhadap perusahaan asuransi raksasa AIG (American International Group)—menunjukkan kian besarnya peran ”Negara” dalam perekonomian Bush.

Namun kita perlu lebih saksama. Sebab yang terjadi sebenarnya sebuah simbiosis yang tak selamanya diakui antara ”Negara” dan ”pasar”. ”Nasionalisasi” terhadap Fannie dan Freddie berarti sebuah langkah menyelamatkan sejumlah pemain pasar dengan dana yang dipungut dari pajak rakyat. Dengan kata lain: yang dilakukan Pemerintah Bush adalah sebuah ”pemerataan” kerugian, bukan ”pemerataan” hak.

Hubungan simbiosis antara kedua perusahaan itu dan ”Negara” juga bisa dilihat dari segi lain: menurut laporan CNN, selama 10 tahun, Fannie dan Freddie mengeluarkan US$ 174 juta untuk melobi para politikus, untuk membangun ”iklim politik” yang ramah kepada mereka—termasuk ketika tanda-tanda keambrukan sudah terasa.

Tapi jika ”Negara” dan ”kapital”, ”pemerintah” dan ”pasar” ternyata tak sepenuhnya lagi bisa dipisahkan dengan jelas, apa yang luar biasa? Bukankah sejak abad ke-19 Marx menunjukkan bahwa ”Negara” selamanya adalah sebuah kekuasaan yang memihak kelas yang berkuasa? Dikatakan secara lain, bukankah ”Negara” tak hanya terdiri atas ”apa”, melainkan ”siapa”?

Tapi persoalan tak selesai hanya dengan satu tesis Marx. Sejarah politik makin tak mudah menentukan bagaimana sebuah kelas sosial merumuskan identitasnya—terutama ketika kaum pekerja bisa tampil lebih ”kolot” ketimbang kelompok sosial yang lain, dan ”ketidakadilan” tak hanya menyangkut ketimpangan dalam memiliki alat produksi. Mau tak mau, para analis dan pakar teori harus berhenti seperti beo yang pintar, dan berhenti memakai mantra dan makian ketika ”kapitalisme” dan ”sosialisme” begitu gampang dikatakan.

Itu tak berarti api awal yang dulu membakar perang purba itu, perang yang melahirkan mantra dan makian itu, telah sirna. Selama ketidakadilan menandai rasa sakit sejarah, api itu masih akan membakar dan perang masih akan berlangsung. Selama sejarah belum berakhir dalam mengisi pengertian yang disebut Etienne Balibar sebagai égaliberté, paduan antara ”keadilan” dan ”kebebasan”, perang tak akan padam.

Perang itu, tak selamanya dengan darah dan besi, adalah perjuangan politik. Ketidakadilan tak bisa hanya bisa diselesaikan dengan administrasi, karena administrasi ”Negara” selamanya akan terbatas dan terdorong ke arah pola yang cepat jadi aus. Ketidakadilan juga tak akan bisa diselesaikan dengan perbaikan budi pekerti, dengan mengubah atau mengalahkan orang macam Gekko.

Apalagi pergulatan ke arah keadilan dan kebebasan tak hanya terbatas dengan mengutuk Wall Street. Kita tak cukup jadi Oliver Stone.
~Majalah Tempo Edisi 31/XXXVII 22 September 2008~

[+/-] Selengkapnya...

Selasa, 18 November 2008

Lidia's Milad

Assalamualaikum Wr Wb..
Finally, dapat juga waktu buat postingan lagi, ampir dua bulan, ruang ini dibiarkan 'kosong', nggak ada yang baru, nggak da yang berubah. Emang, mood lagi nulis yang udah berkurang, kegiatan lain, kesibukan serta pelbagai alasan lain yang membetot waktu ini sehigga tuk sekedar postingan lagi nggak sempat.
Bertepatan dengan miladnya Lidia (my wife to be,...... Amin) terbersit keinginan tuk nulis lagi. Dan kebenaran postingan terakhir juga berisi tentang Milad gw. Lidia lahir tanggal 17 November 1985, it means she's 23 years old, udah bisa tu mmi! Semoga di usia yang nambah dewasa, kebaikan, kebahagiaan selalu menyertai.
Pas jam 00:00 tanggal 17 November alarm di HP berbunyi (karena emang udah di set di agenda HP), Nelpon ummi and say Happy B'day, walau lagi ngantuk, ternyata Lidia masih ingat ultahnya.
Emang nggak da yang spesial yang bisa diberikan, tapi waktu ditanya mo kado apa, si ummi jawab My All. Don't worry i'll give my all for you, only. (bahkan dengan cermin pun ku enggan berbagi!)
Ngomong tentang Lidia, kayaknya banyak hal yang tak terungkapkan, rasanya kata-kata tak cukup memadai tuk ekspresikan perasaan ini,
busyet ada tamu udahan dulu, ntar-2 disambung lagi, Anyway, Happy Birthda Lidia, just make your e'one proud of u!
wassalam.

[+/-] Selengkapnya...